Ketika bencana terjadi, kecelakaan massal muncul, atau pasien tiba-tiba mengalami kondisi kritis, pertanyaan besarnya bukan cuma “dokternya siapa?”. Ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: apakah sistemnya siap bergerak?
Pasien harus ditemukan, ditolong, ditriase, distabilkan, dievakuasi, dibawa ke fasilitas kesehatan, lalu mendapatkan penanganan yang tepat. Semua proses itu membutuhkan orang, kompetensi, teknologi, koordinasi, dan sistem yang saling terhubung.
Persoalan inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam SOE PDEI 2026 atau Symposium on Emergency Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia. Mengangkat tema “Emergency Care for the Next Decade: Innovation, Technology, and Community Preparedness”, SOE PDEI 2026 yang berlangsung di Lumire Hotel and Convention Jakarta pada 2–5 September 2026, membawa pembahasan mengenai wajah pelayanan kegawatdaruratan Indonesia di masa depan.
Bukan hanya tentang apa yang bisa dilakukan di ruang gawat darurat, tetapi bagaimana seluruh ekosistem emergency care dapat dipersiapkan menghadapi berbagai situasi.
SOE PDEI 2026 dan Tantangan Indonesia sebagai Negara Rawan Bencana
Indonesia memiliki alasan kuat untuk serius membangun sistem kegawatdaruratan yang tangguh. Berdasarkan WorldRiskReport 2025, Indonesia berada di peringkat ketiga WorldRiskIndex dengan skor 39,80, di bawah Filipina dan India. Indeks tersebut memperhitungkan paparan terhadap berbagai ancaman alam sekaligus kerentanan masyarakat terhadap dampaknya.
Kondisi geografis Indonesia membuat risiko tersebut menjadi persoalan yang tidak bisa dianggap remeh. Gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, hingga berbagai kecelakaan dapat menciptakan situasi yang membutuhkan respons medis dalam jumlah besar dan waktu singkat.
Dalam sambutannya pada acara SOE PDEI 2026, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin juga menyoroti kebutuhan memperkuat Emergency Medical Team atau EMT di Indonesia. Ia menyampaikan rencana penyediaan sejumlah pusat Emergency Medical Team di pulau-pulau besar Indonesia, termasuk kemungkinan tiga pusat di Pulau Jawa.
“Kedepannya, kami akan menyediakan beberapa pusat untuk Emergency Medical Team yang akan tersedia di setiap pulau besar di Indonesia; satu di masing-masing pulau besar, dan mungkin 3 di pulau Jawa,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin.
Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa kesiapan menghadapi bencana membutuhkan sistem yang memang dirancang sejak awal. Tim medis tidak cukup hanya menunggu korban tiba di rumah sakit. Dalam situasi tertentu, tenaga kesehatan harus siap bergerak mendatangi lokasi kejadian.
Di sinilah konsep pre-hospital emergency care menjadi sangat penting.
Ketua Panitia SOE PDEI 2026, dr. Fachrurrozy Basalamah, menegaskan bahwa PDEI berkomitmen meningkatkan kapasitas tenaga medis dan tenaga kesehatan dalam menghadapi keadaan gawat darurat, baik di rumah sakit maupun fase pre-hospital.
Pesan tersebut menjadi relevan dengan agenda SOE PDEI 2026 yang mempertemukan berbagai elemen dalam ekosistem kegawatdaruratan.
Dari Symposium hingga Workshop, SOE PDEI 2026 Tidak Berhenti di Ruang Kelas
Salah satu kekuatan SOE PDEI 2026 adalah format acaranya yang tidak hanya mengandalkan symposium.
Selain sesi ilmiah, SOE PDEI 2026 menghadirkan berbagai workshop untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta. Pembahasan dan pelatihan diarahkan pada kebutuhan praktis dalam pelayanan kegawatdaruratan, termasuk penanganan trauma, resusitasi, airway management, ultrasound, hingga berbagai keterampilan emergency lainnya.
Pendekatan ini penting karena kegawatdaruratan bukan bidang yang cukup dipelajari melalui teori. Dalam situasi nyata, tenaga kesehatan harus mampu mengambil keputusan dan melakukan tindakan secara cepat dan tepat.
Selain symposium dan workshop, SOE PDEI 2026 juga menghadirkan area pameran yang mempertemukan tenaga kesehatan dengan perkembangan teknologi serta produk pendukung pelayanan medis.
Press release menyebut kehadiran perangkat USG dari Butterfly dan simulator emergency dari Zoll. Sejumlah exhibitor lainnya juga ikut ambil bagian, di antaranya Novell, Savana, Teleflex, Fituno, BTL, Wellesta CPI, Médecins Sans Frontières, MIMS, Sing Aji Sentosa, THC, dan Prodia.
Rumah Sakit JHC Jakarta dan Rumah Sakit Husada turut hadir membawa layanan terbaru mereka.
Sementara itu, berbagai produk penunjang seperti Pocari Sweat, Collagena, Tujuh Kurma, dan Hansaplast ikut meramaikan area pameran.
Kehadiran banyak pihak tersebut memperlihatkan satu hal: membangun pelayanan kegawatdaruratan tidak bisa dilakukan oleh satu profesi atau satu institusi saja.
Dibutuhkan kolaborasi antara organisasi profesi, pemerintah, rumah sakit, tenaga kesehatan, industri teknologi medis, institusi pendidikan, hingga masyarakat.
Trensehat.id sendiri hadir sebagai media partner dalam SOE PDEI 2026 untuk ikut menyebarluaskan informasi mengenai perkembangan pelayanan kegawatdaruratan dan pentingnya kesiapan menghadapi kondisi darurat.
Membangun Emergency Care yang Siap Menghadapi 10 Tahun ke Depan
Tema SOE PDEI 2026 sebenarnya memberikan pesan yang cukup jelas: masa depan kegawatdaruratan tidak hanya ditentukan oleh semakin canggihnya peralatan medis.
Ada tiga kata penting yang menjadi fondasi acara ini, yaitu innovation, technology, dan community preparedness.
Inovasi diperlukan agar pelayanan kesehatan mampu menjawab tantangan baru. Teknologi dapat membantu tenaga medis bekerja lebih cepat dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam kondisi kritis. Sementara kesiapan komunitas menjadi bagian penting karena keadaan darurat tidak selalu dimulai dari rumah sakit.
Ketiganya harus berjalan bersama.
Hal tersebut juga tercermin dari keterlibatan berbagai organisasi dan institusi dalam SOE PDEI 2026. Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia sebagai penyelenggara membawa perspektif kegawatdaruratan, sementara berbagai organisasi profesi dan institusi lain turut mendukung rangkaian kegiatan tersebut.
Bagi Indonesia, kebutuhan membangun sistem emergency care yang kuat semakin relevan karena risiko bencana dan berbagai kejadian darurat tidak dapat diprediksi secara pasti.
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia, dr. Wishnu Pramudito, Sp.B., dalam press release menyampaikan bahwa Indonesia dan seluruh stakeholder perlu bersiap menghadapi berbagai jenis bencana serta menyiapkan kompetensi masing-masing.
Pada akhirnya, SOE PDEI 2026 bukan sekadar tentang sebuah symposium. Event ini menjadi ruang bertemunya pengetahuan, keterampilan, teknologi, dan jejaring kolaborasi yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan kegawatdaruratan.
Sebab ketika keadaan darurat benar-benar terjadi, tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendirian.
Dokter emergensi membutuhkan sistem. Tenaga kesehatan membutuhkan teknologi dan koordinasi. Rumah sakit membutuhkan jejaring pre-hospital. Dan masyarakat membutuhkan pengetahuan untuk merespons keadaan darurat sejak menit-menit pertama.
Membangun emergency care untuk satu dekade ke depan, dengan demikian, bukan hanya soal menyiapkan alat yang lebih canggih. Yang jauh lebih penting adalah memastikan seluruh sistem siap bergerak bersama ketika nyawa dipertaruhkan. (*)









Leave a Reply