Pernah nggak sih kamu panik dan buru-buru ke IGD, padahal ternyata itu bukan kondisi darurat?
Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak orang masih bingung membedakan antara gawat darurat dan kondisi biasa. Padahal, memahami perbedaan ini penting banget biar kita nggak salah tanggap — apalagi dalam situasi emergensi.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, sekitar 60% pasien yang datang ke IGD tidak dalam kondisi gawat darurat. Hal ini bisa membuat antrean jadi panjang dan petugas medis kesulitan menangani kasus yang benar-benar mendesak. Jadi, yuk kita belajar bareng, apa sih bedanya gawat darurat dan non-darurat?
Apa Itu Gawat Darurat dalam Emergensi?
Gawat darurat adalah kondisi di mana nyawa seseorang bisa terancam jika tidak segera ditangani. Situasi ini termasuk kategori emergensi medis yang membutuhkan pertolongan langsung dari tenaga profesional.
Beberapa contoh keadaan gawat darurat:
- Serangan jantung
- Kesulitan bernapas berat
- Pendarahan hebat
- Luka bakar parah
- Kejang pertama kali
- Hilang kesadaran
- Kecelakaan lalu lintas dengan cedera serius
Di sinilah pentingnya mengenali tanda-tanda emergensi. Misalnya, orang yang dadanya terasa nyeri hebat dan menjalar ke lengan kiri — itu bisa jadi tanda serangan jantung. Jangan ditunda, langsung hubungi layanan darurat atau bawa ke rumah sakit terdekat.
Ingat, dalam situasi emergensi seperti ini, waktu adalah segalanya. Tindakan cepat bisa menyelamatkan nyawa.
Lalu, Apa Itu Non-Darurat?
Nah, kalau non-darurat adalah kondisi yang mungkin mengganggu aktivitas tapi tidak mengancam nyawa. Biasanya, keluhan seperti ini masih bisa ditangani di klinik atau puskesmas tanpa perlu buru-buru ke IGD.
Contoh kondisi non-darurat:
- Demam ringan
- Flu
- Batuk kering
- Luka kecil yang tidak mengeluarkan banyak darah
- Nyeri otot ringan
- Pusing sesekali
Walaupun terasa nggak nyaman, kondisi ini tidak membutuhkan penanganan cepat dalam skala emergensi. Tapi tetap perlu diperiksa, ya. Bedanya, kamu bisa buat janji ke dokter umum atau konsultasi secara daring tanpa harus memotong antrean orang lain yang sedang dalam kondisi emergensi.
Mengetahui perbedaan antara gawat darurat dan non-darurat bisa membantu kita membuat keputusan yang lebih bijak, terutama saat menghadapi situasi emergensi. Jangan panik dulu — observasi gejala, periksa kondisinya, dan ambil tindakan sesuai level kegawatannya.
Kalau ragu, kamu bisa menghubungi layanan kesehatan atau call center darurat untuk minta arahan. Karena dalam dunia emergensi, keputusan cepat tapi tepat bisa menyelamatkan hidup seseorang — atau bahkan dirimu sendiri. (*)









Leave a Reply