PDEI – Bayangkan: seorang kakek atau nenek jatuh dari kursi, tak mampu bangun sendiri. Sekilas seperti insiden ringan, tapi bisa menjadi momen kegawatdaruratan yang mengancam nyawa.
Kondisi ini seringkali muncul secara mendadak, dan keluarga harus siap sedia.
Karena, pada lansia, perubahan tubuh tak sekadar membuat kegiatan sehari-hari jadi sulit, tapi juga meningkatkan risiko kegawatdaruratan yang bisa menimpa kapan saja.
Kenapa lansia lebih rentan terhadap kegawatdaruratan
Seiring bertambahnya usia, tubuh kita tak lagi “sekuat dulu”. Banyak proses fisiologis yang melambat, dan itu membuat risiko kegawatdaruratan meningkat, terutama untuk orang lanjut usia (lansia).
Salah satu yang memaparkannya adalah dr. Wishnu Pramudito DP, Sp.B, dokter spesialis bedah yang aktif menangani berbagai kondisi darurat di Tangerang.
“Pada lansia, penurunan keseimbangan, kekuatan otot dan kapasitas paru bukan sekadar teori—itu adalah dasar kenapa kita harus waspada terhadap setiap potensi kegawatdaruratan,” katanya.
Mengapa demikian? Beberapa faktor utama termasuk:
- Penurunan keseimbangan dan kekuatan otot, yang membuat lansia gampang terjatuh.
- Kapasitas paru yang menurun, sehingga sesak atau gagal napas bisa muncul.
- Gangguan sistem jantung dan pembuluh darah yang lebih sering terjadi.
- Fungsi ekskresi dan metabolisme yang melemah, berpengaruh pada obat-obatan dan racun tubuh.
- Kehilangan lapisan lemak dan protein penyangga tubuh, jadi lansia tak punya “buffer” saat kondisi buruk muncul.
- Penggunaan obat-obatan kronis: “Efek samping obat, atau interaksi antara obat, seringkali menjadi pemicu kegawatdaruratan di lansia,” kata dr. Wishnu.
Karena gabungan faktor inilah, anggota keluarga perlu memahami bahwa kegawatdaruratan pada lansia bisa terjadi dengan cepat, tidak sama seperti kecemasan ringan atau kelelahan biasa.
Tanda bahaya dan bagaimana keluarga harus bertindak
Keluarga harus waspada terhadap berbagai gejala yang menandakan kegawatdaruratan pada lansia. Jika Anda melihat salah satu dari berikut, jangan tunggu lama:
- Penurunan kesadaran secara tiba-tiba atau kebingungan
- Napas yang cepat, dangkal atau tidak teratur.
- Nyeri dada hebat.
- Perubahan mendadak pada wajah, penglihatan, atau kemampuan berbicara (mungkin tanda stroke).
- Kulit tiba-tiba menjadi pucat, dingin, basah dengan keringat.
- Kejang atau tremor hebat.
Sebagaimana diingatkan dr. Wishnu: “Setiap perubahan mendadak pada lansia—yang mungkin kita anggap ringan—sebetulnya bisa menjadi lonceng kegawatdaruratan.”
Langkah pertolongan pertama di rumah
Saat situasi menunjukkan risiko kegawatdaruratan—bertindak cepat bisa membuat perbedaan besar. Berikut panduan praktis untuk keluarga:
- Tetaplah tenang dan segera hubungi layanan darurat (contoh: 119 atau 112).
- Pastikan jalan napas terbuka, posisi tubuh korban aman.
- Jangan beri makanan/minuman jika korban tidak sadar atau kesulitan menelan.
- Bila korban tidak sadar: tepuk pundak, panggil dengan suara keras. Jika tidak ada respons → minta bantuan sekeliling.
- Periksa nadi dan napas selama 5 detik. Jika tidak ada nadi → lakukan CPR (resusitasi jantung paru).
- Jika ada perdarahan aktif: balut luka, tekan area tersebut. Jika ekstrem, teknik seperti wound packing atau tourniquet bisa diperlukan (dengan pelatihan).
- Letakkan korban dalam posisi “recovery” sambil menunggu petugas medis datang.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa tanda-tanda kecil bisa langsung dianggap sebagai sinyal kegawatdaruratan, bukan hal yang bisa diabaikan.
Pencegahan agar kegawatdaruratan tidak terjadi
Lebih baik mencegah daripada menunggu dan menangani krisis. Langkah-langkah praktis berikut sangat penting untuk mengurangi risiko kegawatdaruratan pada lansia:
- Lakukan pemeriksaan kesehatan rutin, yang meliputi jantung, paru, ginjal, dan metabolisme.
- Bila perlu, gunakan alat bantu jalan atau pegangan tangan agar risiko jatuh berkurang.
- Hindari penggunaan obat tanpa resep atau penggunaan ganda tanpa pengawasan dokter—karena efek samping atau interaksi obat sering menjadi pemicu kegawatdaruratan.
- Sediakan kontak darurat yang mudah dijangkau di rumah: nomor ambulans, rumah sakit terdekat, keluarga yang bisa dihubungi kapan saja.
- Pastikan rumah aman: lantai tak licin, pencahayaan cukup, pegangan di dinding terutama di kamar mandi atau tangga—semua untuk mencegah jatuh yang bisa memicu kegawatdaruratan.
Sebagaimana kata dr. Wishnu: “Keluarga yang siap—mengetahui tanda-bahaya, punya nomor darurat, dan lingkungan yang aman—seringkali mampu mengurangi kondisi ringan menjadi kondisi penuh kegawatdaruratan.”
Kondisi lansia berbeda dengan orang muda. Karena tubuh sudah menghadapi banyak perubahan, satu kejadian yang tampak sepele bisa menjadi pemicu kegawatdaruratan.
Dengan memahami faktor risiko, mengenali tanda-bahaya, dan tahu apa yang harus dilakukan di rumah, keluarga bisa menjadi benteng pertama dalam menyelamatkan nyawa orang tercinta.
Penting: jangan anggap enteng. Bila ada gejala yang mencurigakan, langsung bertindak—karena semakin cepat responnya, semakin besar peluang menyelamatkan nyawa. (*)









Leave a Reply